Rabu, 26 April 2023

KETUPAT

Umat Islam telah merampungkan hari raya atau Lebaran Idul Fitri. Namun demikian, nuansa dari lebaran masih demikian terasa. Apalagi sejumlah warga masih enggan kembali ke tempat kerja. Suasana kampung masih bernuansa lebaran, apalagi di sana sini masih beredar ketupat yang disajikan di tengah acara kumpul dengan keluarga.


Penggunaan istilah ketupat dalam lebaran ketupat tentu bukan tanpa filosofi yang mendasarinya, Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). 

Prosesi ngaku lepat umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orang tuanya. Dengan begitu, kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua, tidak angkuh dan tidak sombong kepada mereka serta senantiasa mengharap ridha dan bimbinganya.Ini merupakan sebuah bukti cinta dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya begitupun orang tua kepada anaknya. Prosesi ngaku lepat pun tidak hanya berkutat pada tradisi sungkeman seorang anak kepada orang tua, lebih jauh lagi adalah memohon maaf kepada tetangga, kerabat dekat maupun jauh hingga masyarakat Muslim lainya.Dengan begitu umat Islam dituntun untuk mau mengakui kesalahan dan saling memaafkan dengan penuh keikhlasan yang disimbolkan dengan ketupat tersebut. Ketupat menjadi simbol “maaf” bagi masyarakat Jawa, yaitu ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabatnya nantinya mereka akan disuguhkan ketupat dan diminta untuk memakannya, apabila ketupat tersebut dimakan secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala salah dan khilaf antar keduanya terhapus.

Jumat, 24 Maret 2023

PANAS RAMADHAN

Sabtu tanggal 25 Maret adalah hari ketiga saya menjalankan ibadah puasa. Sejak pagi, matahari seperti tidak bersahabat karena pada lima menit sebelum pukul enam pagi saja, panasnya sudah menyayat. Semakin siang, raja siang itu tidak mengendorkan sinarnya sedikitpun. Terus tampil garang dengan sinar yang bisa membuat kulit hitam seperti arang. 
Aktivitas semakin tambah berat karena  di samping kerja aaya sebagai petani, cuacanya juga membuat segalanya semakin hebat. Saya menjalani dengan tabah sebab rutinitas ini telah lama saya lakukan. Masak harus dihentikan atau ditunda gara gara bulan puasa.
Seusai kerja di sawah peninggalan keluarga, saya melanjutkan dengan melaksanakan dinas di sekolah. Jarak yang dekat antara rumah dan sekolah tempat saya berdinas tetap terasa menyiksa karena faktor cuaca tadi. Panas ini harus dihadapi dengan tabah bukan malah dihindari. Saya jadi ingat kata guru ngaji saya bahwa dalam doa jangan minta kita terhindar dari malapetaka, tetapi mintalah pada Allah agar kita bisa dan mampu menghadapi malapetaka. Sebab malapetaka adalah kehendak Allah sama seperti panas pada ramadhan tahun ini. Dibandingkan dengan kuli panggul pelabuhan atau pekerja sawah, maka panas yang saya rasakan tentu menjadi tidak seberapa. Betapa panas dan lelah yang harus dirasakan para kuli panggul dan pekerja sawah sementara mereka ada yang kuat bertahan menjalankan ibadah puasa. Saya pernah membayangkan ada dalam posisi mereka. Saya ragu saya kuat dan tahan berpuasa dalam keadaan seperti itu. 
Maka bersyukurlah kita berada dalam posisi yang insyaallah lebih nyaman dari para kuli panggul pelabuhan dan pekerja sawah. Melalui puasa ini tentu kita diajarkan memahami betapa berat perjuangan hidup mereka. Melalui puasa ini ditumbuhkan kesadaran untuk selalu mau bersyukur dan berbagi rejeki yang kita dapat dengan orang orang yang tingkat ekonominya ada di bawah level kita. 
Semoga amanah

Kamis, 23 Maret 2023

TERASA SULIT

Sore hari di hari pertama ramadhan 1444 Hijriyah iseng saya baca sebuah artikel islami di laman CNN Indonesia. Mulanya terasa malas, tetapi semakin lama saya semakin tertarik. Temanya kurang lebih adalah perihal masalah maaf memaafkan. Dimulai dari bahasan tentang sifat Allah yang Maha Pemaaf, anjuran untuk mau dan berani meminta maaf kepada orang lain apabila kita berbuat salah serta imbauan agar kita jangan pelit membuka pintu maaf jika ada orang lain meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya kepada kita. Dan semua itu dibungkus dengan nuansa bulan Ramadhan. 
Perihal Allah itu Maha Pemaaf itu tidak terbantahkan lagi. Allah akan memaafkan kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh makhluknya apabila kemudian makhluk tersebut melakukan taubatan nasuuha. Selalu ada penekanan dalam kitab suci al Quran agar manusia selalu memohon ampunan atas segala dosa dosanya. Para ulama mengajarkan dalam bentuk kalimat istighfar yang gampang diingat dan diucapkan. Para ulama juga mengingatkan agar istighfar itu mesti diikuti dengan kemauan meninggalkan perbuatan dosa tersebut untuk selama-lamanya. Dan Al Quran menjamin Allah akan memberikan ampunan. 
Perihal meminta maaf dan memberi maaf tentu menjadi lebih sulit dibandingkan perihal yang pertama. Sebabnya adalah kedua perbuatan itu berhubungan dengan hati dan hati. Jika hatinya kasar, membatu ataupun sombong, InsyaAllah sulit melakukan kedua hal di atas. Tidak gampang meminta maaf atas kesalahan kita pada orang lain karena terkadang terhalang oleh rasa gengsi yang menjulang. Gengsi karena merasa lebih tua umurnya, lebih tinggi jabatannya, ataupun  lebih rimbun kebun, sawah dan kekayaan yang dimilikinya. Timbullah perasaan tidak pantas meminta maaf padahal jelas jelas ia telah melakukan kesalahan. Terasa berat juga memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada kita. Okelah kalau nilai kesalahan yang diperbuatnya enteng enteng dan tidak membuat luka. Tetapi untuk sebuah kesalahan misalnya tuduhan akan perbuatan yang sebetulnya tidak kita lakukan, maka memberi maaf merupakan sesuatu yang maha berat. Apalagi jika kesalahan itu telah berhasil menumbuhkan rasa dendam. Maka memberi maaf menjadi sesuatu yang amat berat dilakukan. 
Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk meneladani sifat pemaaf yang dimiliki Allah. Mengajarkan kita untuk jantan mengakui kesalahan dan jangan meminta maaf atas kesalahan tersebut. Ramadhan juga mengajarkan agar kita membuka hati kita guna memberi maaf kepada orang lain yang secara jantan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya kepada kita. Semoga hal ringan tapi berat ini bisa kita pelajari dan implementasikan dalam kehidupan. 

Minggu, 12 Februari 2023

Memburu isi perut

Saya baru saja meletakkan pantat di kursi panas kantor koperasi. Begitu penat rasanya otor ototku saat itu. Padahal tidak terlalu banyak aktivitas yang saya lakukan di pagi itu. Waktu masih pagi, jam masih malas beranjak karena seperti lama bergerak dari pukul 08.45 WIB. 
Ini hari sabtu tanggal 11 Februari 2023. Sebetulnya saya bertekad menyelesaikan kerja panjang di koperasi hari ini. Niat itu telah saya teguhkan mulai dini hari tadi. Tetapi saya baru saja meletakkan pantat di kursi panas, bunyi telepon dari seorang sahabat menggugurkan segalanya. 
" Hello, Hai... ayo cepet berangkat saya akan menunggu anda di gerbang SDN 1 Bugeman ™
Isi telepon itu sebenarnya biasa biasa saja dan sebenarnya pula bisa saya abaikan. Tetapi besarnya nilai persahabatan dan tebalnya rasa untuk menjaga kekompakan, membuat saya mengambil keputusan menangguhkan kerja itu. Saya memilih untuk berangkat meluncur ke lokasi yang sudah disepakati dalam obrolan grup. 
Sepeda tua saya yang hitam warnanya sudah mulai pudar meluncur di tengah kota. Kontras dengan mode lalu lintas yang lain. Di samping pudarnya warna, modelnya pun sudah terbilang kuno. Tapi saya bangga mengendarainya. Dan hari ini kembali benda jadul itu membawaku sampai di warung sederhana di daerah Tanjung Kamal Kecamatan Mangaran. Dalam hidup, baru sekali itu saya melintasi jalan itu. Makanya selama perjalanan saya menikmatinya. Saya juga ingin menuntaakan rasa penasaran tentang apa yang dicari dalam tentang perjalanan sepanjang itu oleh teman teman. Warung sederhana tapi cukup bersih dan familiar itu ternyata menawarkan kuliner sederhana berupa rujak cingur. Kurang ajarnya ya, rujak cingur yang dihadirkan rasanya cukup enak dalam ukuran lidah saya. Saya menikmatinya sampai titik darah yang penghabisan. Sampai menyisakan piring dan plastik krupuk. Itu pertanda saya amat menikmatinya, kuliner kamal untuk pengisi perut di terik siang itu. 
Kami pun pulang sesaat setelah adzan dhuhur.  Alhamdulillah. 

Jumat, 10 Februari 2023

Membaca Nasehat

Hari ini Jumat 10 Februari 2023,saya memulai aktivitas dengan membaca sebuah status teman pada pukul dua dinihari. Status yang menjadi teka teki karena kepastiannya belum bisa dipercaya. Dan kepastian itu baru nyata pada pukul lima pagi ketika bahasan di grup WA kecamatan ramai membahasnya. Sahih lah jadinya bahwa hari itu salah satu teman guru di kecamatan ku meninggal dunia. Teman guru yang saya maksud adalah Pak Kusniya, yang selama hidup beliau mengabdikan diri mengajar di SD Negeri 2 Bugeman Kecamatan Kendit. Saya mengenal beliau sebagai pribadi yang baik dan disiplin. Beliau juga tidak segan mengkritik dan memberikan pula solusi untuk memecahkan masalah yang saya hadapi. Sebaliknya pula beliau adalah orang yang tidak anti kritik, karena setiap pendapat sekalipun memojokkan dirinya selalu diterima dengan lapang dada. Sebab itulah beliau dipercaya menjadi Ketua PGRI Ranting Bugeman dalam kurun masa 2010 sampai dengan 2020. Dan usia yang merambat tua sekaligus rasa kehilangan sang istri yang cukup mendalam insyaallah sedikit memangkas semangat beliau dalam bekerja dan berorganisasi. Sampai akhirnya tibalah saat itu.... di mana maut menjemput beliau ketika menjalani ikhtiar opname di rumah sakit untuk yang ke sekian kalinya. 
Agak telat saya hadir di rumah duka dan bagian yang saya dapat hanyalah mengantarkan jenasah beliau ke tempat peristirahatan terakhir kita, liang kubur. Karena beliau juga tergolong orang yang humble, maka cukup banyak pelayat yang hadir saat beliau dimakamkan. 
Saya bersama Kepala SMPN 1 Kendit Mas Nur Wachid memasuki pelataran pekuburan umum di daerah Desa Balung. Pekuburan itu lazim kami sebut Kobhuran Mantheng. Kami harus hati hati karena di sekitaran langkah kaki kami banyak batu batu nisan yang bertebaran tak tentu arah. Dengan mengucap salam di dalam hati saya minta ijin pada para arwah di dalamnya. Mungkin kalau melihat banyaknya nisan insyaallah ada lebih dari 2000 an mayat yang ditanam di sana. Kuburan itu telah ada ketika saya belum lahir. 
Rasa gotong royong yang tinggi membuat kerja menggali kubur dan menanam mayat serta menimbun kubur terasa cepat dan ringan. Inilah istimewanya hidup di desa. Tak ada biaya dan yang ada hanya kebersamaan dan rasa belasungkawa yang mendalam. Mereka melakukannya dengan semangat meskipun hanya dibayar dengan segelas air segelas kopi dan beberapa puntung rokok kretek murah. Dan kerja pun usai di pukul 08.20 WIB ditandai dengan pulangnya para pelayat dari rumah duka. 
Setiap menghadiri pemakaman teman dan saudara sekampung, selalu saya ingat dua nasehat yang ditinggalkan Rasulullah SAW. Nasehat yang berbicara dan Nasehat yang diam tanpa kata. 
Nasehat yang berbicara adalah Al Qur'an. Kitab itu adalah firman Allah yang diterima oleh Rasulullah SAW. Kitab itu berisi petunjuk dan tuntutan hidup yang disampaikan Allah tentang bagaimana dunia dan bagaimana hidup baik di dunia dan di akhirat. Banyak yang diterangkan secara panjang dan lebar. Tiada bacaan yang selengkap Al Qur'an sehingga pantaslah jika Kitab itu dikatakan sebagai nasehat yang banyak berbicara. Dan sebagai umat islam, wajiblah kita selalu mendekat tuntunan Allah dengan membaca Al Qur'an secara rutin. 
Nasehat yang diam tanpa kata adalah kematian. Jika dicerna terbuka banyak hal yang diajarkan kematian meskipun tanpa banyak kata. Kematian mengajarkan kita sadar bahwa hidup ini sementara bahwa hidup tidak abadi bahwa hidup satu saat akan sampai pada waktunya berhenti. Waktu berhenti itulah yang lazim disebut kematian. Jika mati, segalanya tentu akan turut terhenti. Mau ataupun tidak mau, suka ataupun tidak suka semuanya akan distop. Apakah yang bisa kita perbuat jika kita sudah mati  ? Tentu tidak ada lagi. Maka secara tidak langsung kematian telah memberi nasehat agar kita berhati hati hidup di dunia, agar kita mempersiapkan bekal terbaik yang akan kita bawa ketika mati nanti. 
Saya pulang takziah hari itu sampai merenungi makna pembelajaran yang saya dapat dari kematian. Selamat Jalan Sahabat. Semoga husnul khotimah dan semoga bapak mendapat tempat termulya di sisi Allah. Segala amal baik semoga diterima dan segala dosa dan alpa yang bapak buat semoga diampuni oleh Allah SWT. RIP Pak Kusniya  !!! 

Sabtu, 19 November 2022

DINGIN SEKALI SORE INI

Kamis 10 November ini adalah peringatan Hari Pahlawan. Di kotaku Situbondo diadakan peringatan Hari Pahlawan dengan mengadakan bapak tilas Pahlawan Nasional dari Situbondo, KHR As'ad Syamsul Arifin. Ribuan peserta mengikuti bapak tilas dengan berjalan kaki dari gedung PCNU Situbondo menuju halaman mesjid PPSS Sukorejo Situbondo. Jarak yang akan mereka tempuh insya Allah sekitar 33 kilometer dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 7 atau 8 jam untuk menyelesaikannya. Sebagian besar peserta mengikuti acara tersebut meskipun melelahkan tapi menjadi ceria karena banyak teman seperjalanan. Acara dimulai pukul 7 pagi dan diperkirakan sampai di tempat finish sekitar pukul 15 sore. Aku karena faktor usia dan kesibukan memilih memonitor saja kegiatan itu dari rumah. Kesibukan kerja dan kedinasan membuatkan terikat tidak ke mana mana. Aku memilih menyelesaikan kerja organisasi koperasi yang demikian lama kuabaikan.
Dua jam di sekolah membuat mataku lelah dan sering tak terasa terpejam. Rasa kantuk pagi hari membuatku tidak nyaman, sehingga kuputuskan keluar dari area sekolah menuju koperasi guru. Lumayan karena di sana aku berkutat dengan kewajiban menyelesaikan kerja. Tiga jam kuhabiskan sampai pukul 12 siang. Kewajiban kerjaku telah diselesaikan dan mudah mudahan hasilnya minim kesalahan. Setelahnya kuputuskan pulang ke rumah karena percuma kembali ke sekolah karena sudah sampai waktunya pulang. Aku sempatlan merebahkan diri menghilangkan kepenatan. Mataku sempat terpejam sebelum dibangunkan paksa oleh istri karena harus setor badan ke sekolah. Dan saat itu cuaca sudah tidak karuan. Panas dan hujan saling bergantian. Cuaca pun dingin karena hujan agak deras disertai angin semilir berlarian. Ya, cuaca sore ini terasa amat dingin. Kulit dan tulangku seperti ditusuk tusuk rasa dingin berulang ulang. Aku tidak tahu ini hanya masalah cuaca atau juga karena faktor usia yang tidak lagi muda. Usiaku memang sudah lima puluh satu dan akan genap dalam hitungan beberapa hari lagi. Di usiaku yang sudah tua ini cuaca memang tidak bisa lagi kompromi. Sedikit basah saja sudah bisa membuat asma, sedikit angin saja kadang membuat kedinginan. Perasaan ini sebetulnya sudah lama kurasakan, tapi demi gengsi sering kuabaikan. Sejujurnya kalau lagi sendiri, aku sering merasa kedinginan. Dingin karena cuaca dan karena rasa sepi yang semakin menekan. 
Sore ini terasa dingin. Melingkar di tempat tidur sambil berselimut tebal tak mungkin kulakukan. Ini masih sore belum menjelang malam. Tapi cuaca begitu dingin. 

Membunuh Karakter

Setiap anak yang lahir di dunia merupakan amanah yang dibekali dengan berbagai potensi hebat berupa kepekaan, kecerdasan, penglihatan serta pendengaran yang luar biasa bagusnya. Jika sejak dini sampai masa anak-anak berlangsung disadari dan dikembangkan  dengan cara yang kondusif, akan terbentuk anak hebat yang sangat mengagumkan.  Namun pada kenyataannya, banyak orang tua dan guru tidak memahami akan potensi tersebut sehingga dalam proses  belajarnya salah dan menyimpang.

Jika kita melihat pendidikan yang berlangsung di Negara yang telah maju dan sadar terhadap potensi besar tersebut, maka anak merupakan asset yang harus diperhatikan dan dibina se awal mungkin dalam proses pembelajarannya, sehingga ia menjadi pribadi yang mandiri, cerdas serta berkarakter. Kesadaran orang tua dalam pendidikan, peran guru dalam pembelajaran, system pemerintahan yang mendukung  serta keikutsertaan masyarakat mempunyai andil besar untuk mewujudkan impian tersebut. Seringkali beberapa aspek tersebut tidak konsisten dalam menjalankan tanggungjawab  atau malah saling bertolak belakang.

Manusia adalah makhluk edukandum yang mampu dididik dan diarahkan serta dikembangkan melebihi kehebatan komputer secanggih apapun. Otak manusia merupakan organ yang membantu untuk berfikir serta menyimpan berbagai informasi yang didapatkan melalui semua indera dan disimpan dalam memory dengan daya simpan yang bisa bertahan  lama bahkan seumur hidupnya.  Diantara  masa bayi sampai pada kisaran 10 tahun, sel otak pada anak memiliki fleksibilitas yang tinggi, sehingga dengan bermain dengan suasana yang menyenangkan dapat mengembangkan imaginasi serta kreativitas yang begitu tinggi. Sebab bagi anak, bermain merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan sehingga banyak kegiatan belajar yang dilakukan dalam suasana tersebut mampu merubah kejenuhan dan kebosanan anak sehingga menumbuhkan semangat kembali. Selain dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki oleh anak, dengan bermain yang menyenangkan  dapat dipakai untuk melatih daya konsentrasi anak sehingga ia dapat terfokus terhadap kegiatan tertentu. Konsentrasi merupakan sesuatu yang esensi dalam kehidupan, terutama bagi anak yang akan memasuki dunia sekolah sehingga ia lebih siap untuk mendapatkan materi yang lebih meningkat dari jenjang sebelumnya. Melalui bermain anak akan belajar mendapatkan pengalaman, 30 % dari apa yang didengar, 40 dari yang dilihat, 60 % dari yang dilakukan dan 90 % dari yang dilihat, didengar dan dilakukan.

Anak akan melakukan hal-hal  sesuai dengan apa yang di lihat dan dicontohkannya, sehingga jika diberikan  pelatihan secara kontinyu dan berulang  dapat  menimbulkan habit akan berpengaruh terhadap perkembangan kognisi selanjutnya, yakni memperkuat relasi antar neuron kemampuan akademik yang memiliki kegunaan pada perkembangan di masa yang akan datang. Sebab pada usia dini otak anak belum terisi oleh banyaknya persoalan hidup sehingga daya kemampuan untuk menangkap informasi serta daya simpan dalam memorinya begitu tajam. Banyaknya latihan bicara yang diberikan akan memperkuat keterampilan berbahasa. Anak yang dilatih dengan kelembutan, kesungguhan, kedisiplinan memiliki pengaruh dalam perkembangan sosial, kognisi serta keperibadian.  Belajar harus berfokus pada kontektual, bukan tekstual, sehingga mengajarkan kepada anak harus  konsisten dan penuh kesungguhan sehingga akan menumbuhkan karakter yang kuat.  

Namun kenyataan banyak yang didapati anak dalam proses belajar tidak semulus harapannya, banyak dari mereka mendapatkan perlakuan yang tidak layak dengan berbagai pembunuhan karakter yakni pemunculan kalimat negative, kelemahan serta kekurangan yang dimiliki anak. Sejak dulu, manusia seringkali dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Lebih-lebih aliran behavioristik yang memandang manusia sebagai sesuatu mekanik yang penuh dengan berbagai masalah. Juga pandangan aliran klasik psikoanalisis yang selalu  melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Mereka lebih banyak mengedepankan  kekurangan dibandingkan dengan kelebihan yang ada pada manusia Sehingga pembelajaran yang seringkali dilakukan kebanyakan berorientasi kepada pandangan-pandangan yang dapat merusak bahkan membunuh character atau potensi alamiah yang diberikan oleh Tuhan dengan berjuta kebaikan.

Pada  kenyatannya  setiap anak manusia selalu mendambakan kebahagiaan serta  terbebas dari masalah yang menghimpitnya. Mereka memiliki keinginan untuk dihargai, disanjung, dikasihsayangi, dimiliki, humor, optimism  serta dimunculkan nilai-nilai kebaikan  lainnya sehingga menjadikannya berarti dan bermakna. Mengedepankan nilai positif tidak hanya bermanfaat untuk meningkat kemampuan serta mengembangkan kreativitas anak, melainkan juga dapat digunakan untuk menyembuhkan stress dan gangguan mental lainnya. Sebab pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” (Seligman). Untuk membangun character maka lebih berfokus pada kelebihan manusia bukan pathogenesis. Pathogenisis akan membuat manusia semkin terpuruk dan jauh dari potensi dasar yang sebenarnya. Sebagai orangtua, guru serta anggota masyarakat kita dapat memahami mengapa hal-hal yang positif  susah dikembangkan atau sering diabaikan? Sebab emosi negatif lebih memiliki efek serta pengaruh yang kuat terhadap perasaan nyaman yang subyektif dalam beradaptasi dibandingkan emosi positif. Kesedihan, penderitaan, sakit hati lebih berkesan dibanding rasa bahagia. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli didapatkan bahwa  marah adalah emosi yang dipelajari, yang dapat  menurunkan ketegangan serta menimbulkan kepuasan, sehingga ada kecenderungan untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman. Padahal jika dianalisis secara mendalam atas dampak yang dilakukan sangatlah tinggi, baik ditinjau dari aspek fisik maupun psikologis