Senin, 21 September 2026

Krisis Pembelajaran

Menghadapi Krisis Literasi dan Numerasi: Dari Refleksi Rapor Pendidikan Menuju Langkah Nyata Pembelajaran

​1. Pendahuluan & Refleksi Realitas

​Hasil Evaluasi Rapor Pendidikan di tingkat satuan pendidikan sering kali menjadi cermin yang mengejutkan sekaligus menggugah kesadaran. Ketika indikator kemampuan literasi dan numerasi menunjukkan hasil yang jeblok, ada dorongan kuat bagi pendidik dan pengelola sekolah untuk tidak sekadar berkecil hati, melainkan mencari tahu akar masalah dan solusi perbaikannya.

​Rendahnya capaian di tingkat sekolah ini nyatanya tidak berdiri sendiri; hal tersebut merupakan bagian dari potret krisis pembelajaran (learning crisis) yang masih membayangi dunia pendidikan kita secara nasional.

​2. Landasan Data dan Referensi Akurat

​Untuk memahami kedalaman masalah ini, kita dapat merujuk pada beberapa data dan acuan resmi:

​A. Potret Internasional (PISA 2022)

​Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD pada akhir 2023:

  • Literasi Membaca: Indonesia mencatatkan skor rata-rata 359, mengalami penurunan dari skor 2018 (371).
  • Numerasi/Matematika: Indonesia meraih skor rata-rata 366, turun dari skor 2018 (379).
  • ​Skor tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat bawah (posisi ~70 dari 81 negara peserta) dan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam mengolah informasi bacaan maupun memecahkan masalah kuantitatif.

​B. Potret Nasional (Asesmen Nasional & Rapor Pendidikan)

​Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengukur kemampuan ini melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dalam Rapor Pendidikan. Data nasional menunjukkan:

  • ​Masih terdapat porsi signifikan siswa yang berada pada kategori "Di Bawah Kompetensi Minimum" atau "Perlu Intervensi Khusus".
  • Literasi dalam Rapor Pendidikan tidak sekadar kemampuan mengeja atau membaca lancar, melainkan kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks.
  • Numerasi bukan sekadar menghitung rumus matematika, melainkan kemampuan mengaplikasikan konsep matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari (personal, sosial-budaya, dan saintifik).

​3. Akar Masalah Rendahnya Literasi dan Numerasi

​Mengapa kemampuan dasar ini begitu sulit dicapai siswa?

  1. Model Pembelajaran Berbasis Hafalan (Rote Learning): Pembelajaran sering kali berfokus pada penyelesaian soal rutin dan mekanis, bukan pada pemahaman konsep dan penalaran mendalam.
  2. Kurangnya Paparan Teks Kontekstual & Soal Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS): Siswa terbiasa dengan soal singkat berbasis pilihan ganda tanpa narasi atau tabel/grafik yang menuntut analisis.
  3. Ketergantungan Media Digital Tanpa Daya Kritis: Konsumsi informasi cepat (seperti video pendek) mengurangi rentang perhatian (attention span) siswa untuk membaca teks panjang dan memproses argumen bernalar.
  4. Isolasi Mata Pelajaran: Literasi dan numerasi sering diidentikkan hanya sebagai tanggung jawab guru Bahasa Indonesia dan Matematika, padahal kedua kemampuan ini bersifat lintas disiplin (cross-curricular).

​4. Langkah-Langkah Pembelajaran Konkret di Kelas

​Untuk mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi dari level kelas hingga sekolah, berikut adalah strategi praktis dan terstruktur yang dapat diterapkan oleh para guru:

​A. Strategi Peningkatan Literasi

  1. Penerapan Teks Multimoda dan Multi-Sumber:
    • ​Jangan hanya mengandalkan buku teks tunggal. Sajikan materi berupa kombinasi teks naratif, infografis, tabel, dan artikel berita pendek.
    • Aktivitas: Minta siswa membandingkan dua sumber informasi berbeda mengenai topik yang sama dan menemukan perbedaannya.
  2. Menggunakan Teknik Memicu Berpikir (Scaffolding Literacy):
    • ​Terapkan strategi SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) atau strategi Know-Want-Learned (KWL) sebelum, saat, dan sesudah membaca.
    • ​Ajukan pertanyaan tingkat tinggi seperti: "Apa bukti pendukung dari argumen penulis di paragraf ke-3?" atau "Apakah informasi ini relevan dengan kondisi di lingkungan kita?"
  3. Budaya Membaca Berbasis Refleksi (bukan sekadar merangkum):
    • ​Gantilah tugas merangkum dengan Jurnal Refleksi. Siswa diminta menuliskan pandangan pribadi, persetujuan/ketidaksetujuan, serta keterkaitan isi bacaan dengan pengalaman hidup mereka.

​B. Strategi Peningkatan Numerasi

  1. Pembelajaran Berbasis Masalah Kontekstual (Problem-Based Learning - PBL):
    • ​Mulailah pembelajaran dengan situasi nyata yang membutuhkan penalaran kuantitatif.
    • Contoh: Dibandingkan hanya memberi rumus persentase, minta siswa menganalisis promo diskon "Beli 2 Gratis 1" vs "Diskon 50% + 20%" di supermarket mana yang paling menguntungkan.
  2. Visualisasi dan Manipulasi Konsep Matematika:
    • ​Gunakan grafik, diagram, skala, dan representasi visual untuk menjelaskan konsep angka.
    • ​Dorong siswa menjelaskan alasan dan proses di balik jawaban mereka, bukan sekadar memberikan angka akhir (Mathematical Reasoning).
  3. Numerasi Lintas Mata Pelajaran:
    • IPS/PPKn: Membaca data grafik demografi atau data ekonomi sederhana.
    • IPA: Menganalisis grafik perubahan suhu atau mengukur estimasi laju reaksi.
    • PJOK: Menghitung indeks massa tubuh (IMT) atau menghitung rata-rata denyut nadi.

​C. Strategi Tingkat Sekolah (Manajerial & Budaya)

  1. Perencanaan Berbasis Data (PBD): Gunakan data Rapor Pendidikan untuk memetakan indikator mana yang paling merah (misal: "Kemampuan mengevaluasi dan merefleksi" atau "Domain Geometri") untuk dijadikan fokus pelatihan guru.
  2. Gerakan Literasi-Numerasi Harian (15 Menit Awal Pembelajaran): Alokasikan 15 menit sebelum KBM untuk kegiatan membaca terpandu atau menyelesaikan tantangan penalaran singkat (misal: Problem of the Day).
  3. Komunitas Belajar Guru (Kombel): Guru mata pelajaran secara rutin merancang modul ajar bersama yang menyelipkan elemen AKM (literasi & numerasi) di setiap mata pelajaran.

​5. Kesimpulan

​Rapor pendidikan yang kurang memuaskan bukan akhir dari segalanya, melainkan alarm petunjuk arah bagi perubahan. Dengan menggeser paradigma pengajaran dari sekadar penyampaian materi (content delivery) menuju pengasahan daya nalar (thinking skills), kita dapat membantu siswa tidak hanya lulus ujian, tetapi memiliki bekal kecakapan hidup yang kokoh di era informasi.

Jumat, 19 Juni 2026

Subuh

Sabtu pagi di tanggal 20 Juni 2026 terawali dengan kejadian yang tak disangka. Dalam rangka menyongsong shalat subuh berjemaah tiba tiba perutku sakit dan menuntut untuk segera dikeluarkan isinya. Ah,daripada kupertahankan dan membuat khusyukku berkurang,maka segera kuputuskan untuk memilih WC daripada mesjid. Subuh berjemaah hari ini saya lepas terbang.Subuh hanya dapat kulaksanakan munfarid. Seusai itu menjelang langit cerah ,kusempatkan membaca Al Anfal.
Subuh memang saat yang luar biasa.Waktu Subuh adalah momen istimewa bagi umat manusia karena menjadi awal dimulainya kehidupan setiap hari. Saat alam masih sunyi dan udara masih bersih, Subuh mengajarkan manusia untuk bangun dari kelalaian, menata niat, dan memulai aktivitas dengan ketenangan serta harapan baru. Bagi umat Islam, waktu Subuh memiliki keutamaan besar sebagai waktu ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Secara kehidupan, kebiasaan bangun di waktu Subuh juga melatih kedisiplinan, kesehatan, produktivitas, dan rasa syukur atas kesempatan menjalani hari yang baru.
Subuh bukan sekadar pergantian waktu, tetapi simbol kebangkitan: dari gelap menuju terang, dari diam menuju karya, dan dari keterpurukan menuju semangat memperbaiki diri.
Mari kita biasakan bangun subuh.

Kamis, 22 Januari 2026

KEBIASAAN YANG BISA MERUSAK OTAK

Ada beberapa kebiasaan yang tidak sadar kita lakukan tetapi justru jika dilakukan secara terus menerus akan bisa merusak otak. Apakah itu. ?
  1. Makan Sambil Scroll Media Sosial. Kebiasaan ini lebih berbahaya dari yang kita kira. Ketika makan sambil main HP, otak kita dipaksa multitasking. Akibatnya otak jadi stress karena harus fokus ke dua hal sekaligus. Belum lagi, kita jadi tidak sadar sudah makan berapa banyak. Yang lebih parah, informasi berlebih dari medsos saat makan bisa ganggu produksi enzim pencernaan. Ujung-ujungnya, nutrisi yang harusnya sampai ke otak malah tidak terserap maksimal.
  2. Jam Tidur Berantakan. Saya sering melihat banyak orang yang bangga bisa begadang sampai pagi. Padahal, kebiasaan ini sama bahayanya dengan menenggak racun pelan-pelan. Tidur tidak teratur bikin otak kebingungan kapan harus memulai proses 'bersih-bersih'. Ya, otak kita punya sistem pembersihan yang namanya glymphatic system. Sistemnya cuma aktif waktu tidur malam. Kalau tidurnya berantakan, sampah metabolisme numpuk di otak. Lama-lama bisa bikin pikun lebih cepat.
  3. Kurang Minum Air Putih. Dehidrasi itu musuh besar otak. Cuma kurang 2% cairan aja, kemampuan otak langsung turun 30%. Bayangkan, otak kita 73% airnya. Kalau kurang minum, sel-sel otak jadi seperti tanaman kekeringan. Mereka akan mengerut dan tidak bisa bekerja optimal. Efeknya? Konsentrasi buyar, mood naik turun, sampai sakit kepala.
  4. Terlalu Sering Pakai Headset. Saya tahu musik itu asyik. Tapi dengerin musi{k keras-keras pakai headset itu seperti nyiksa sel-sel otak. Getaran suara yang terlalu kencang bisa merusak area otak yang ngurus pendengaran. Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan ini sifatnya permanen. Sel-sel saraf telinga yang rusak tidak bisa tumbuh lagi.
  5. Makan Junk Food Terus-terusan. Ini bukan soal gemuk atau kurus. Makanan cepat saji itu miskin nutrisi tapi kaya racun. Lemak trans dan gula berlebih dalam junk food bikin pembuluh darah di otak jadi kaku dan sempit. Akibatnya? Aliran darah ke otak berkurang, oksigen tidak cukup, sel-sel otak jadi lemas. Sama seperti mobil dikasih bensin campur air, performanya pasti turun.
  6. Jarang Gerak. Otak butuh gerak, bukan cuma duduk seharian. Ketika kita bergerak, darah mengalir lebih lancar ke otak. Plus, aktivitas fisik memicu produksi BDNF, semacam pupuk alami untuk sel otak. Tanpa gerak, otak jadi seperti tanaman di ruang gelap - kurus dan tidak berkembang.
  7. Kebanyakan Main Game. Game memang seru. Tapi main game berlebihan itu seperti memberi otak kopi terus-menerus. Dopamin - hormon 'bahagia' - dipaksa keluar terus. Lama-lama, otak jadi kebal. Aktivitas normal jadi terasa membosankan. Yang lebih bahaya, area otak yang ngurus kontrol diri jadi lemah.
  8. Perfeksionis Berlebihan. Ngejar kesempurnaan terus-menerus itu sama dengan menyiksa otak. Otak dipaksa selalu waspada, cortisol (hormon stress) naik terus. Efeknya? Sel-sel otak bisa mati lebih cepat.
  9. Kurang Sosialisasi. Manusia itu makhluk sosial, bukan robot. Kurang interaksi sosial bikin area otak yang ngurus empati dan komunikasi jadi kerdil. Sama seperti otot yang tidak dipakai, kemampuan sosial kita bisa 'atrofi' atau mengecil kalau tidak dilatih.
  10. Menahan Buang Air Kecil. Ini kebiasaan sepele tapi efeknya serius. Menahan pipis bikin tekanan di kandung kemih naik. Tekanan ini bisa mengganggu aliran darah ke otak. Belum lagi stress yang timbul karena menahan diri terus-menerus. Otak jadi tidak bisa fokus karena sibuk 'menahan'.

Selasa, 20 Januari 2026

Memaknai Kelelahan

Pernah nggak sih kamu merasa badan lemas dan pikiran buntu padahal merasa sudah tidur cukup? Kelelahan itu sebenarnya sinyal alami dari tubuh, mirip seperti lampu indikator bensin di kendaraan yang mulai berkedip. Manusia mengalami lelah karena energi kita memang terbatas. Setiap aktivitas, mulai dari bekerja di depan laptop, terjebak macet, hingga memikirkan cicilan atau masa depan, semuanya menguras baterai internal kita secara fisik maupun mental.
Penyebab utama kelelahan sering kali bukan cuma karena kurang gerak, tapi karena "mesin" tubuh dipaksa bekerja terus-menerus tanpa jeda. Selain faktor fisik seperti kurang tidur atau pola makan yang berantakan, tekanan pikiran atau stres juga jadi pencuri energi yang luar biasa besar. Saat otak kita bekerja terlalu keras memproses kecemasan, tubuh akan merespons dengan rasa lelah yang luar biasa, seolah-olah kita habis berlari maraton padahal hanya duduk diam di kursi kerja.
Lantas, bagaimana cara terbaik mengatasinya? Langkah pertama yang paling ampuh bukanlah kopi bergelas-gelas, melainkan memberikan hak tubuh untuk istirahat berkualitas. Tidur yang nyenyak selama 7-8 jam adalah cara mutlak bagi sel-sel tubuh untuk memperbaiki diri. Selain itu, jangan remehkan asupan air putih; terkadang rasa lelah yang kita rasakan sebenarnya hanyalah sinyal dehidrasi ringan yang membuat aliran darah ke otak jadi kurang lancar.
Selain istirahat fisik, kita juga butuh yang namanya istirahat mental. Cobalah untuk melakukan digital detox alias menjauh sebentar dari layar HP. Melihat tumpukan informasi di media sosial justru sering membuat otak makin panas. Carilah aktivitas yang berbeda dari rutinitas harian, misalnya jalan kaki santai di sore hari tanpa melihat ponsel. Aktivitas fisik ringan seperti ini justru bisa memicu hormon endorfin yang membuat badan terasa lebih segar dan pikiran lebih jernih.
Terakhir, ingatlah bahwa kita bukan robot yang diciptakan untuk produktif 24 jam non-stop. Mengenali batasan diri sendiri adalah bentuk mencintai diri yang paling dasar. Jangan merasa bersalah saat kamu perlu mengambil jeda atau berkata "tidak" pada tugas yang sudah berlebihan. Dengan menjaga keseimbangan antara kerja, asupan nutrisi, dan ketenangan pikiran, kita bisa menjalani hari dengan energi yang tetap stabil tanpa harus sering-sering merasa tumbang.

Jumat, 19 Desember 2025

Malu dan Kurang Pede

Pada Rabu 17 Desember 2025 kemarin dilakukan reformasi organisasi kepala sekolah di kecamatan ku., Kurang ajarnya acara tersebut dilakukan secara dadakan tanpa ada pemberitahuan ataupun persiapan sebelumnya. Langkah itu dilakukan karena jika dilakukan dalam situasi resmi dan tertatadipastikan akan banyak kepala sekolah yang tidak menghadiri undangan. Alasannya adalah kuatir saja jika mereka hadir mereka akan dipilih menjadi pengurus organisasi tersebut. Maka digagaslah acara reformasi pengurus seperti pola tersebut dan hasilnya dalam waktu singkat berhasil dipilih dan dikukuhkan pengurus organisasi KS yang baru untuk masa bakti 2026 sampai dengan 2029.
Mengapa sebagian besar orang merasa malu untuk tampil di even yang dihadiri banyak orang seperti halnya cerita di atas. ?  
Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang itu malu tampil di hadapan banyak orang ?  Salah satu penyebab utama adalah takut dinilai—khawatir terlihat salah, ditertawakan, atau tidak memenuhi harapan orang lain. Rasa takut ini muncul karena manusia secara alami ingin diterima dalam lingkungan sosialnya.
Selain itu, kurangnya kepercayaan diri juga berperan besar. Orang yang belum terbiasa berbicara di depan umum sering merasa kemampuannya tidak cukup baik, baik dari segi cara bicara, penampilan, maupun penguasaan materi. Pengalaman buruk di masa lalu, seperti pernah diejek atau gagal saat tampil, dapat memperkuat rasa malu tersebut.
Faktor lain adalah reaksi tubuh terhadap stres. Saat berada di pusat perhatian, tubuh bisa merespons dengan jantung berdebar, tangan berkeringat, atau suara gemetar. Reaksi ini sering disalahartikan sebagai tanda kelemahan, padahal sebenarnya respons alami tubuh terhadap situasi yang dianggap menantang.
Terakhir, budaya dan pola asuh juga memengaruhi. Dalam lingkungan tertentu, bersuara lantang atau menonjol dianggap tidak sopan, sehingga seseorang tumbuh dengan kebiasaan menahan diri. Kabar baiknya, rasa malu ini bisa dikurangi melalui latihan, pengalaman, dan membangun pola pikir yang lebih positif terhadap diri sendiri.
Mengingat hal yang demikian tentu situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,dalam artian kita harus melakukan perlawanan agar situasi tersebut tidak mengganggu hidup dan karir kita. Dibutuhkan jiwa sabar dan tabah menjalaninya karena tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu sedemikian cepat.
Berikut beberapa trik praktis agar bisa tampil lebih percaya diri di depan banyak orang:
1. Persiapkan diri dengan matang
Kuasai materi yang akan disampaikan. Semakin paham isi pembicaraan, semakin kecil rasa takut salah. Persiapan yang baik akan menumbuhkan rasa aman dan keyakinan diri.
2. Latihan secara bertahap
Mulailah berlatih di depan cermin, lalu di depan teman atau kelompok kecil. Dari situ, tingkatkan perlahan ke audiens yang lebih besar. Kebiasaan ini membantu tubuh dan pikiran beradaptasi.
3. Atur napas dan bahasa tubuh
Tarik napas dalam sebelum tampil untuk menenangkan diri. Berdiri tegak, bahu rileks, dan lakukan kontak mata sederhana. Bahasa tubuh yang tenang akan “mengirim sinyal” percaya diri ke otak.
4. Ubah cara pandang tentang audiens
Anggap audiens sebagai teman yang ingin mendengarkan, bukan hakim yang siap mengkritik. Fokus pada menyampaikan pesan, bukan pada menilai diri sendiri.
5. Terima rasa gugup sebagai hal wajar
Gugup bukan tanda ketidakmampuan. Justru banyak pembicara hebat tetap merasa gugup, tetapi mereka belajar mengelolanya. Jangan melawan gugup—kelola dan gunakan sebagai energi positif.
6. Gunakan pembukaan yang dikuasai
Hafalkan atau kuasai kalimat pembuka. Saat awal berjalan lancar, kepercayaan diri biasanya langsung meningkat.
7. Evaluasi, bukan menghakimi diri
Setelah selesai, evaluasi apa yang bisa diperbaiki tanpa menyalahkan diri sendiri. Setiap penampilan adalah proses belajar.
Demikian beberapa hal yang bisa di obati dilaksanakan agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi seorang pemimpin

Selasa, 16 Desember 2025

Seragam

Berada di pertigaan jalan di ujung kecamatan pagi ini membuat mata saya sedikit lebar. Banyak yang disaksikan dan siap pula untuk sekedar dijadikan bahan perbincangan. Demikianlah hidup memang selalu hidup dan gerakannya selalu tidak pernah meredup. Dimulai ketika sebelum subuh kita membuka mata dan sebelum dini hari kita menutup mata, tidur dan istirahat. 
Pagi ini saya bangga sekali memakai seragam dan saya meyakini setiap orang pasti bangga memakai seragam. Saat memakainya, ada kebanggaan yang membuat kita bisa membusungkan dada. Rasa tersebut itulah yang kemudian mendatangkan  percaya diri. 

Baju seragam merupakan pakaian yang digunakan secara bersama oleh anggota suatu kelompok, seperti di sekolah, tempat kerja, atau organisasi tertentu. Seragam bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga simbol identitas dan kebersamaan. Dengan memakai seragam, seseorang dapat langsung dikenali sebagai bagian dari suatu institusi, sehingga tercipta kesan rapi, teratur, dan profesional dalam lingkungan tersebut.

Salah satu manfaat utama penggunaan seragam adalah menumbuhkan rasa persamaan. Seragam mengurangi perbedaan status sosial, ekonomi, maupun gaya berpakaian antarindividu. Ketika semua orang mengenakan pakaian yang sama, fokus tidak lagi tertuju pada penampilan luar, melainkan pada peran, tanggung jawab, dan tujuan bersama yang ingin dicapai.

Dari sisi psikologis, memakai seragam dapat meningkatkan rasa percaya diri dan disiplin. Seragam membantu membentuk pola pikir bahwa seseorang sedang berada dalam situasi formal atau tanggung jawab tertentu. Hal ini mendorong individu untuk bersikap lebih serius, tertib, dan menghargai aturan yang berlaku, baik di sekolah maupun di tempat kerja.

Selain itu, seragam juga berdampak positif terhadap rasa kebersamaan dan solidaritas. Ketika seseorang mengenakan seragam yang sama dengan orang lain, muncul perasaan menjadi bagian dari satu tim. Secara psikologis, hal ini dapat meningkatkan rasa memiliki, loyalitas, serta motivasi untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam mencapai tujuan kelompok.

Namun, penggunaan seragam juga perlu diseimbangkan dengan kenyamanan dan kebebasan berekspresi. Jika dirancang dengan baik dan sesuai kebutuhan, seragam dapat memberikan dampak positif yang besar bagi individu maupun kelompok. Dengan demikian, baju seragam tidak hanya berfungsi sebagai pakaian kerja atau sekolah, tetapi juga sebagai alat pembentuk karakter, sikap, dan kesehatan psikologis penggunanya.

Kamis, 11 Desember 2025

MISKIN = MINDSET

Kalimat yang sering diucapkan orang kalangan ekonomi menengah tanpa mengetahui bagaimana kenyataan yang sebenarnya.Banyak orang ternyata sangat sentimen terhadap perilaku-perilaku yang biasa dilakukan orang-orang miskin. Contohnya:

1. "udah tau miskin kenapa punya anak"
2. "mereka miskin karena mereka ga punya skill"
3. "kerja keras biar ga jadi orang miskin", dll

Apapun yang mereka katakan terhadap orang-orang miskin itu adalah kebodohan paling mutlak yang pernah saya lihat.

Sekarang begini pertanyaanya…
Bagaimana bisa orang-orang yang terlahir tanpa pendidikan dan pangan yang cukup bisa memikirkan hal-hal seperti itu? atau bagaimana bisa mereka tau bahwa hal-hal yang sedang mereka lakukan saat ini itu tidak seharusnya dilakukan? mereka ga terpapar pendidikan yang cukup loh, apa yang kalian harapkan dari mereka? invest crypto dari duit hasil mulung sampah?

Kenyataanya pahit, tapi orang yang terlahir miskin itu memang punya "kesulitan" hidup yang sangat berbeda dari kita kebanyakan.

Bukan karena mereka males, bukan karena mereka kurang kerja keras ataupun yang lain.
Mereka memang tidak beruntung, mereka juga tidak ingin dilahirkan dalam kondisi seperti itu tapi nyatanya? kenyataan yang pahit berdiri dihadapan mereka.

Jujur saya terkadang suka kesal terhadap orang-orang yang selalu sentimen terhadap orang-orang miskin ini. Banyak faktor yang bikin orang menjadi miskin, bukan karena kurang kerja keras ataupun males. Mereka aja kurang terpapar pendidikan yang layak kok, bagaimana bisa anda berharap mereka bisa jadi sukses dengan sendirinya tanpa bantuan orang-orang mampu dari kita?

Seharusnya mereka malu ketika,
Udah berpendidikan cukup, makan terpenuhi & bisa main hp, tapi hidupnya masih gitu-gitu aja.
Banyak orang-orang ga seberuntung kita, maka jangan besar kepala dan terus fokus kembangin diri kita daripada meremehkan orang lain supaya kita terlihat tinggi.